Skip navigation

Waktu yang saya habiskan setiap harinya di dunia pekerjaan, membuat saya merasa bahwa saya kurang mendapat waktu tidur berkualitas. Maklum saja, setiap hari harus sudah bangun sebelum matahari terbit untuk bersiap-siap ke kantor. Ketika waktu pulang kerja tiba, matahari sudah di ufuk barat, bersiap meninggalkan aktivitasnya. Alhasil, saya pun tiba di rumah saat malam telah tiba.

Begitu seterusnya selama lima hari kerja, dari Senin-Jumat, kecuali bila deadline menjelang, hari Sabtu dan Minggu pun saya harus tetap ke kantor. Jadi, tak heran bila saat akhir pekan tiba, di luar deadline, saya sudah siap mengisinya dengan satu acara rutin…tidur sepuasnya. Tak jarang, saya baru siap beraktivitas di hari libur ketika lewat tengah hari. Kalau tidak ada acara apa pun, saya akan isi waktu siang menjelang sore untuk, sekali lagi, tidur siang.

Memang, tidur yang berkualitas itu sangat diperlukan untuk menjaga stamina tubuh. Tapi ternyata, kebanyakan tidur memiliki efek negatif loh buat kesehatan. Saya pun langsung tertarik untuk mendalami hal ini lebih jelas, karena tidur merupakan salah satu hobi saya yang paling sering saya lakukan.

Dan, saya mendapat sebuah informasi berharga, bahwa kebanyakan tidur, atau lebih dikenal dengan istilah oversleeping, berkaitan dengan beberapa penyakit berbahaya, seperti sakit kepala, diabetes, penyakit jantung, obesitas, dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Ada beberapa penelitian yang saya baca tentang oversleeping, yang mungkin belum pernah Anda ketahui sebelumnya.

Salah satu efek buruk yang membuat saya mulai berpikir untuk mengurangi waktu tidur “malas” saya di hari libur adalah kemungkinan obesitas. Buat wanita, kata-kata yang satu itu dapat langsung membuat kami bergidik. Ada riset yang menemukan bahwa tidur selama 9-10 jam setiap malam, memiliki 21% risiko lebih besar mengalami obesitas dalam jangka waktu enam tahun ke depan, dibandingkan mereka yang tidur 7-8 jam setiap malam.

Belum cukup ancaman obesitas, ada lagi penelitian dari Nurses Health yang menyebutkan kalau kebanyakan tidur bisa terkena penyakit jantung. Hmm, mungkin jadwal bangun sesiang-siangnya harus mulai dihapus dari agenda liburan saya. Riset dilakukan kepada 72.000 wanita. Mereka yang tidur antara 9-11 jam setiap malam, 38% lebih berisiko terkena penyakit jantung koroner, dibanding mereka yang tidur selama delapan jam. Sayangnya, penelitian ini tidak menyebutkan kaitan antara oversleeping dengan sakit jantung.

Diabetes juga masuk dalam daftar efek negatif kebanyakan tidur. Riset yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan adanya hubungan antara oversleeping dengan diabetes. Hasil penelitian mengatakan orang yang tidur lebih dari sembilan jam dalam sehari, 50% lebih berisiko terkena diabetes. Peningkatan risiko ini juga terdapat pada orang yang tidur kurang dari lima jam seharinya.

Untuk mereka yang rentan sekit kepala, tidur lebih lama dari biasanya pada saat weekend atau liburan dapat menimbulkan rasa sakit pada kepala. Para ahli percaya bahwa oversleeping berpengaruh pada neurotransmitter tertentu dalam otak, termasuk serotonin. Orang yang tidur lama di siang hari dan mengacaukan pola tidur malamnya, juga terbukti sering mengalami sakit kepala pada pagi hari.

Banyak riset mengungkapkan bahwa mereka yang tidur sembilan jam atau lebih di malam hari secara signifikan memiliki rata-rata kematian lebih tinggi ketimbang mereka yang tidur selama 7-8 jam. Tidak ada alasan spesifik dari hubungan ini, namun peneliti menemukan bahwa depresi dan rendahnya status sosial-ekonomi berkaitan dengan tidur yang lebih lama. Mereka berspekulasi faktor-faktor ini berkaitan dengan peningkatan angka mortalitas pada orang yang tidur terlalu lama.

Tentu saja, tak semua orang yang tidur berlebihan mengalami gangguan atau kelainan tidur. Penyebab lain yang mungkin dari oversleeping juga bisa berasal dari konsumi sejenis zat tertentu seperti alkohol dan sejumlah obat-obatan. Kondisi medis lainnya seperti depresi juga dapat menyebabkan seseorang menjadi kelebihan tidur. Selain itu, memang ada beberapa orang yang memang menikmati tidur dalam waktu cukup lama.

Walaupun sedikit kecewa, saya harus mulai mengurangi kebiasaan saya berlama-lama menghabiskan waktu di dunia mimpi. Tapi, kalau memang situasi tubuh sedang membutuhkan tidur yang berkualitas, seperti di kala terlalu lelah, sedang sakit, atau kurang tidur, saya rasa tidak apa-apa sedikit “balas dendam” menghabiskan waktu lebih lama ditemani bantal. Asal tidak berlebihan saja.


Oleh : Anastasia Ratih P. Tyas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: